• 22

    Dec

    Sedikit Cerita soal Argalitha

    Argalitha, demikian namanya lebih dikenal di dunia maya. Di awal perkenalan kami tahun 2013 lalu, seingat saya, ia tak memakai nama ini sebagai nama akun facebook. Coba saja lihat bukti percakapan kami per 20 April 2013 berikut ini: screenshoot percakapan pertama saya dengan Argalitha via facebook Percakapan di atas dimulai jelang kopdar perdana kami di acara komunitas TDA Yogyakarta dan Freelancer Indonesia di Edu Hostel, Jalan Ngampilan. Akun yang ia pakai kala itu adalah Tha Artha. Eh, tapi kok, nama akunnya tertulis Facebook User, ya? Kurang tahu juga. Mungkin akun ini di-deactive atau memang sudah dihapus oleh si empunya dan pindah ke lain hati menjadi yang sekarang ini, Argalitha. Secara personal, kala itu saya tidak akrab dengan Argalitha. Lha wong kenalnya saja di grup KEB; ngo
  • 16

    Nov

    Sehari Tanpa Gadget: Bisa 'Mati Gaya'

    Gadget dan gaya hidup masa kini seolah sudah tidak dapat dipisahkan lagi. Sebagian besar penggunanya merasakan hidup lebih mudah karena kehadiran si gadget. Entah karena terbantu dalam urusan komunikasi, akses informasi, atau juga karena berhasil terlihat keren dan tidak dianggap kudet (kurang update) *eh. :lol: credit Saya sendiri sebagai salah satu pengguna gadget–meski bukan gadget mahal–merasa bahwa kebutuhan akan gadget saat ini makin penting, terutama jika saya berada di luar rumah. Saya dapat dengan mudah memberi kabar kepada ibu semisal saya harus pulang terlambat atau ada urusan lain. Sama halnya dengan urusan pekerjaan; gadget juga mempermudah urusan saya di redaksi. Tanpa ponsel, apa mungkin saya bisa berkomunikasi dengan para penulis, penelaah, dan pelanggan jurnal
  • 11

    Sep

    Gadis Jambu

    Sebagian orang mungkin akan mengernyitkan dahi ketika saya menyebut salah satu kesukaan saya semenjak kanak-kanak adalah memanjat pohon. Entah bilamana kebiasaan ini bermula, tetapi yang saya ingat memanjat pohon memang mengasyikkan. Saya bisa berjam-jam di atas pohon. Apalagi ketika orang tua tidak keberatan saya menjadi Tarzein kecil (karena saya perempuan :lol: ) sepulang sekolah. Bukan tanpa peringatan, ibu dan bapak selalu mengingatkan saya untuk berhati-hati. Beberapa pohon sudah pernah saya panjat. Rambutan, kelengkeng, kersen, beberapa jenis jambu (jambu air, jambu biji, jambu mete), sawo, belimbing, juga melinjo yang getas dan rapuh batangnya. Tidak terhitung berapa kali saya terjatuh, apalagi ketika memanjat pohon melinjo. Jatuh dari pohon adalah risiko, tetapi anehnya saya tida
  • 1

    Jul

    Terlambat

    “Wis, Pakne sembuh dulu. Soal tegalan biar diurus Kamto.” Ah, Pakne…. Bahkan di usia sepuhnya, ia masih memikirkan tegalan, satu-satunya sumber nafkah kami. Pagi tadi ia bilang sudah bregas, siap macul lagi. Aku hanya menggeleng kalau keras kepalanya kambuh. “Minum, Bune…” Kalimat lirihnya menuntunku ke dapur. Segelas air hangat kutuang dari termos. Bersegera langkahku menuju senthong. Kupanggil, diam. Badannya dingin. Terlambat sudah… “Pakne…!!”
  • 27

    Jun

    Belum Kapok Belanja Online

    Belanja. Kalau mendengar satu kata itu, berbinarlah mata saya. Siapa sih perempuan yang tak suka berbelanja? Asal ada longgar uang dan level prioritasnya mencukupi (saya biasa melakukan pertimbangan ini juga sebelum berbelanja, red.); maka dengan senang hatilah saya berbelanja. Baik berbelanja offline maupun online, bagi saya sama menyenangkan. Hanya saja kadang karena kesibukan yang demikian menuntut dan mengharuskan saya stand by seharian di ruang redaksi…, ya jadilah belanja online menjadi pilihan. Selain saya tak perlu berdesakan mengantri, belanja online lebih efisien waktu dan tenaga, serta bisa saya sambil lalu. credit Pengalaman berbelanja online pertama kalinya sekitar pertengahan tahun 2012. Waktu itu saya memenangkan sebuah hadiah utama lomba review blog dan ingin membagi
  • 10

    May

    Mengendus Roti Kismis Bersama Dua Penulis

    Kenangan tercipta melalui ingatan, kadang bisa dipicu karena mengendus sesuatu. Satu di antara aroma yang penuh kenangan adalah aroma roti kismis. Bukan, bukan kismis-kisah misteri-yang mengantarkan kenangan horor. Ini kenangan berharga bagi saya tentang disiplin, tentang menulis, dan pertemuan dengan dua orang penulis beberapa bulan silam. Selengkapnya berikut ini…. Kamis, 31 Januari 2013 Matahari hampir tergelincir di ufuk barat. Saya masih saja tenggelam dalam aktivitas redaksi. Klimaksnya adalah mengantarkan berkas artikel ke kantor pos terdekat untuk dikirim ke luar kota. Kantor pos Kopma UGM sesore itu masih buka. Saya tahu, saya ada janji dengan seorang sahabat lawas. Tapi, saya tidak bisa pergi sebelum menunaikan kewajiban. Belum lagi harus membeli menu pembatal puasa. Usai
  • 19

    Feb

    Potret si "Anak Koala" dan Papanya

    Eno dan papa Namanya Eno, adik sepupu saya. Saat ini duduk di SD kelas 1. Eno suka sekali nemplok layaknya koala di pohon. Dia suka sekali mencuri-curi kesempatan. Begitu ada orang dewasa yang nganggur, langsung nemplok di punggung sambil teriak, “Dapat punggung!!” Lucu yaa … hehehe :lol: Nah, ini potret Eno si “anak koala” dengan papanya saat liburan Juli 2012 lalu di Pantai Kuwaru, Jogja. Memang pas ga nemplok sih. Papanya bilang, “Biar dia mainan air … jangan cuma nemplok doang di pohon.” :mrgreen: Foto ini diambil dengan kamera ponsel plus pengeditan ukuran dengan Microsoft Office Picture Manager karena ukuran sebenarnya melebihi kapasitas file yang bisa di-upload di blogdetik. -dikutsertakan dalam Kontes Potret Laki-laki dan Dunia A
  • 27

    Jan

    Giveaway Senangnya Hatiku: Aquos, si Pereda Gulana

    Bagaimana rasanya jika menonton televisi, sementara butuh waktu 3 jam untuk membuat gambarnya fokus? Butuh ekstra kesabaran yang jelas! :lol: Ah, sudah nasib televisi kami di rumah mungkin. Maklumlah, televisi tabung bermerek Sanyo 16 inchi peninggalan alm. bapak itu dibeli ketika saya duduk di kelas 5 sekolah dasar, sekitar tahun 1995. Sudah uzur, boleh dibilang demikian. Beberapa kali sudah ia bolak-balik ke tukang servis televisi. Kasusnya yang terakhir adalah tak bisa menampilkan gambar dengan jelas karena ada serupa garis mendatar di layar. Masuk ke tukang servis, kembali dengan bonus tambahan remote control. Lumayanlah bisa bertahan beberapa bulan. Eh, belum ada dua bulan ini, si Sanyo collapse! Gambarnya tak bisa fokus. Mirip sekali dengan mata saya yang rabun kalau tak memakai kac
-

Author

perempuan angin | redaktur jurnal | march equinox | freelance tutoress | Ezy's riding mate

Follow Me