Dari Pohon ke Pohon (bagian 1)

29 Dec 2014

Hari Pohon Sedunia itu jatuhnya tanggal 21 November, terus kenapa saya tahu-tahu bikin postingan soal pohon? Ini kan sudah bulan Desember, ya? Telat dong! :mrgreen: Hahaha iya, lagi kepengin saja. :P Sebenarnya saya sedang kangen naik-naik ke … atas pohon. Sudah lama gak manjat pohon dan tiap kali naik ke atas pohon selalu banyak kenangan masa kecil yang kemudian berkelebatan cepat secepat laju mobil Batman si pahlawan dari Gotham City. *iish, apa sih? :lol:

Well, kalau bicara soal pohon, semua orang juga pasti tahu kalau manusia tidak pernah bisa lepas dari yang namanya pepohonan dan tumbuhan, ya. Itu salah satu alasan saya suka pada suasana hijau, rindang, dan sejuknya pepohonan. Bersyukur sekali itu semua masih bisa saya nikmati di sekitar rumah orangtua. Alhamdulillah. Mau saya, nanti di sekitar rumah saya juga hijau begitu. *make a wish*

Nah, beberapa waktu lalu saya iseng mengabadikan ada pohon apa saja di sekitar rumah kami. Tidak semua saya jepret, sih, tapi siapa tahu dengan saya ‘pamer’ pohon yang ada di rumah; Sahabat semua akan tambah senang berkebun, menanam pohon, menambah cadangan air bumi, menambah produksi oksigen. Siapa sih yang gak senang tinggal di lingkungan yang segar? ;)

Oke, daripada terlalu lama saya ngomong gak jelas :lol: lebih baik kita simak satu per satu perjalanan dari pohon ke pohon kali ini. Siap?!

1. Alpukat

alpukat

Pohon buah kami yang satu ini, meski sudah lumayan tinggi, belum bisa berbuah optimal. Terakhir kali berbunga, baru beberapa yang berhasil menjadi buah dan kami nikmati.

O ya, ada hal unik dari alpukat. Kalau Sahabat punya pohon alpukat juga di rumah, coba perhatikan, biasanya menjelang masa berbuah, pohon alpukat akan didatangi oleh segerombol ulat sehingga lama-lama pohon akan nyaris gundul akibat ulah gerombolan si ulat. Meski begitu, jangan khawatir, mekanisme alami ini justru memacu pertumbuhan bunga. Jadi, gak perlu ngeri atau parno, ya, melihat si ulat berpesta menggunduli dedaunan alpukat. Anggap saja mereka tukang kebun dadakan. Hehehe. :lol:

2. Belimbing wuluh

belimbing-wuluh-candi-karang

Nah, pohon yang terletak di samping barat (lebih tepatnya sudut kanan belakang) rumah ini jika tiba saatnya berbuah lebat, hmm … kami sekeluarga bisa mendadak ngidam sayur asem. Benar, enaknya sayur asem itu bakal mencapai 100% jika bahan-bahannya diperoleh tanpa harus belanja ke pasar. ;)

Selain untuk campuran sayur asem, belimbing wuluh juga bisa diolah menjadi selai atau manisan, lho. Tinggal tambahkan sentuhan kreativitas kita, jadilah produk olahan asal kebun sendiri. :mrgreen:

3. Jambu susu merah

jambu-susu-merah-candi-karang

Pohon yang satu ini asli tumbuh dari biji. Letaknya di depan rumah. Meski tingginya belum ada 3 meter, batangnya sudah cukup kokoh untuk digelantungi. Sekadar tambahan informasi, pohon ini adalah pengganti pohon jambu susu merah yang saya jadikan base camp (baca: tempat gelantungan) sepulang sekolah. Ya, itu dulu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pokoknya, kalau sudah manjat pohon dan bergelantungan, saya bisa berjam-jam di atas pohon. Hihihi, dasar anak angin! :mrgreen:

4. Keben

keben-candi-karang

Budhe Latun (kakak perempuan Ibu) adalah orang yang membawa bakal pohon ini beberapa tahun lalu dari Bali. Oleh-oleh tersebut pun ditanam oleh Ibu di halaman samping barat rumah. Budhe menyebutnya sebagai “pohon perdamaian“. Saya kurang tahu alasan khususnya. Yang jelas, setelah saya iseng-iseng browsing, saya tahu pohon ini bernama latin Barringtonia sp., biasa hidup di daerah pesisir. Yang unik dari pohon ini adalah bentuk bunga dan buahnya. Penasaran? Sana, gih, Googling dulu! :P

5. Mahoni

mahoni

Dari sekian banyak pohon di kebun samping rumah, mahoni adalah yang terbanyak. Padahal dulunya mahoni bukan yang paling dominan di kebun kami. Semua berawal ketika Simbah Kung (kakek, bapak dari Ibu) membibitkan biji-biji mahoni dan menanamnya di sudut-sudut kebun. Lambat laun si mahoni tumbuh besar dan menguasai kebun.

Mengapa saya sebut menguasai?

Pohon mahoni bisa tumbuh tinggi menjulang, menaungi tanaman lain di bawahnya. Bisa dibayangkan tentu, siapa yang lebih tinggi akan lebih banyak mendapat sinar matahari. Alhasil, pisang dan kopi yang berada di bawahnya tak mampu tumbuh optimal. Alasan kompetisi ini rupanya diperparah dengan kemampuan si mahoni mengeluarkan sejenis senyawa metabolit sekunder yang berefek ‘meracuni’ tanaman lain. Pantaslah jika di bawah pohon mahoni sangat jarang bisa ditemui tumbuhan lain. Ckckck ….

Nah, itu dia bagian pertama dari safari Dari Pohon ke Pohon. Tunggu bagian selanjutnya, ya! ;)


TAGS pohon cinta pohon mengenal pohon di sekitar rumah alpukat belimbing wuluh melinjo mahoni jambu susu merah keben


-

Author

perempuan angin | redaktur jurnal | march equinox | freelance tutoress | Ezy's riding mate

Follow Me