Berempati terhadap Lingkungan ala Blogger

31 Mar 2014

Bicara soal lingkungan hidup memang tak ada habisnya. Selama kehidupan di bumi belum punah, akan tetap saja ada isu-isu lingkungan yang muncul ke permukaan. Menilik begitu banyak isu lingkungan kadang membuat saya bingung, mau dimulai dari mana kepedulian saya terhadap lingkungan? Sebagai seorang blogger, satu yang pasti adalah mengangkat tema lingkungan sebagai postingan. Entah itu berbentuk curahan hati, puisi, atau review kegiatan peduli lingkungan. Tentu dengan sebuah harapan sederhana, tulisan tersebut dapat menginspirasi pembaca blog untuk turut serta menunjukkan atensi positif terhadap isu-isu lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Seperti ungkapan para bijak, “Seribu jalan menuju Roma”; maka ada sekian banyak jalan pula sebagai blogger untuk bisa menunjukkan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Saya sendiri, secara pribadi, mulai terketuk untuk menilik lebih dekat permasalahan lingkungan ketika mengetahui kerusakan Kali Klanduhan sekitar tahun 2007. Kali itu adalah tempat bermain saya ketika kecil. Ada banyak sekali kisah manis terukir di sepanjang deras alirannya.

Dalam hati saya, ada rasa tak terima ketika berpuluh tahun setelah masa itu berlalu, yang saya temui justru tumpukan sampah plastik, popok sekali pakai, serta pembalut. Belum lagi badan sungai yang rusak parah oleh aktivitas penambangan pasir dan batu (sirtu). Meski dilakukan secara manual, nyatanya badan sungai mengalami kerusakan parah, bahkan pengerukan tersebut memicu ambrolnya sebagian tebing sungai. Yang lebih miris lagi, pelaku penambangan sirtu adalah tetangga saya sendiri.

Ah, rasanya seperti ada sebongkah kemarahan dalam hati. Kemarahan itulah yang memicu saya menelurkan uneg-uneg soal Klanduhan di blog utama saya, Segores Pena Phie. Mulai kisah pencarian benih gayam (Inocarpus sp.) ke daerah Tijayan, Klaten ), draft plan A, hingga soal proposal permohonan bantuan pengadaan bibit kepada sponsor. Kemarahan itu pula yang membuat saya bergerak mengajak rekan-rekan pemuda kampung untuk lebih peduli. Meski pada akhirnya, program penghijauan ini terpaksa mandeg karena kurangnya koordinasi; jauh dalam hati saya, masih tetap ada harapan untuk bisa menyelamatkan Klanduhan. Sesekali saya mengingat permasalahan Klanduhan sebagai bentuk renungan seperti yang saya tulis di tulisan berjudul Tuk Klanduhan Tersayang dan puisi berjudul Kisah Klanduhan. Renungan semacam ini berguna, agar saya tetap terjaga dan ingat pada impian saya memberi hadiah untuk Klanduhan.

Ah ya, Klanduhan bukan satu-satunya isu lingkungan yang menarik perhatian saya. Beberapa isu lain, tak luput saya jadikan ajang mengasah empati. Misalnya saja ketika bertepatan dengan hari penting yang berkaitan dengan lingkungan. Tanggal 5 Juni 2011 lalu, misalnya. Kala itu blog Alam Endah mengundang para sahabatnya untuk meramaikan peringatan Hari Lingkungan Hidup. Sebuah tulisan saya–Catatan dari Sebalik Rindang Kaki Merapi–pun turut serta.

Beberapa tulisan lain saya selesaikan berkat inspirasi dari beberapa pihak, misalnya World Wildlife Foundation (WWF), Mongabay Indonesia, Kartini Sobat Bumi, Hijauku.com, Sahabat Lingkungan-Walhi Jogja, dll. Yang menarik perhatian saya kebanyakan soal isu kerusakan hutan, perkebunan sawit, terancamnya populasi orangutan, perburuan satwa liar, juga konservasi lingkungan. Semua tulisan tersebut saya simpan di bejana Bumimu, Bumiku, Bumi Kita dan Cinta Bumi. .

sertifikat Wali Pohon dari Kartini Sobat Bumi

sertifikat Wali Pohon dari Kartini Sobat Bumi

Sampai hari ini, rasanya baru sedikit kepedulian yang telah saya beri sebagai seorang blogger sekaligus penghuni bumi. Tentu saja, masih banyak yang harus saya lakukan untuk menjaga bumi. Kalaupun itu tak bisa mengembalikan bumi ke keadaan idealnya, semoga dengan membaca karya saya di blog, orang-orang bisa lebih terinspirasi, berempati, dan sadar bahwa mewariskan kelestarian alam adalah bentuk syukur kepada Sang Pencipta dan berkasih sayang kepada sesama mahkluk. Semoga.


TAGS lingkungan hidup blogger peduli lingkungan #IngatLingkungan WWF Indonesia empati


-

Author

perempuan angin | redaktur jurnal | march equinox | freelance tutoress | Ezy's riding mate

Follow Me