Mengejar Ketertinggalan

11 Jan 2014

Tahun ini, tepatnya 26 April 2014 nanti, genap 4 tahun saya menikmati hari-hari di redaksi Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia (JPTI). Sejauh ini masih banyak hal yang harus dikejar, utamanya adalah soal keterlambatan terbit. Jumlah cadangan naskah, keberkalaan terbit, dan status akreditasi menjadi hal penting setelah itu.

Saat saya masuk akhir April 2010, redaksi memang pernah mengalami riwayat vakum terbit. Akibatnya, terbitan yang harus diurus kala itu baru edisi tahun 2008. Itupun sebagai pelaksana, kami harus memulai kembali dari nol–macam petugas SPBU saja. Karena kualitas cetakan edisi tahun 2007 mengecewakan, survei percetakan kembali dilakukan. Apa yang harus dikata, alangkah mustahil jika permohonan akreditasi diajukan dengan kondisi cetakan yang tidak memuaskan hati. Pembaca dan calon penulis pun agaknya akan enggan jika redaksi sendiri tidak berbenah.

Setelah melalui perjalanan survei percetakan di kota Jogja, jadilah, sebuah percetakan yang telah berumur (bernama Pd Hidayat) diputuskan sebagai mitra redaksi JPTI untuk mencetak edisi tahun 2008. Mau kami sih jika edisi pertama tahun 2008 bagus kualitas cetaknya, kerja sama akan dilanjutkan. Sayang, hasil cetakan tidak sesuai keinginan … dan itu berarti sebagai pelaksana, tim kecil kami harus bekerja mencari (lagi) keberadaan percetakan berkualitas.

Survei kedua pun dilakukan, lalu hasilnya dibawa kembali ke rapat dewan redaksi. Diputuskanlah edisi kedua tahun 2008 dicetak di Kanisius. Percetakan inilah yang menjadi mitra JPTI hingga terbitan kedua tahun 2010 yang baru saja terbit.

jpti-des-2010

Tahun 2010 edisi kedua?

Ya, Desember 2010 baru saja terbit. Itu terlambat 3 tahun. Sebuah pencapaian yang tidak begitu membahagiakan bagi saya pribadi. Namun, apa mau dikata. Masalah teknis yang dihadapi rupanya jauh lebih kompleks dari yang kami pikir. Satu di antaranya, sebuah insiden (tak menyenangkan) terjadi di sela-sela persiapan cetak edisi Desember 2010. Akibat insiden tersebut, redaksi kehilangan satu calon naskah siap terbit dan terpaksa menunggu proses dari calon naskah lain. Kedengarannya sepele. Namun, menunggu proses telaah calon naskah bukan masalah seminggu/dua minggu. Telaah artikel ilmiah hampir selalu berbilang bulan. Inilah bedanya proses penyuntingan di majalah populer dengan majalah ilmiah.

By the way … bicara tentang insiden itu, entah, sampai saat ini saya masih saja terheran-heran. Bagaimana bisa seorang penulis utama sedemikian egoisnya hendak menghapus nama penulis lain demi mengejar bobot publikasi ilmiahnya untuk keperluan kenaikan pangkat? Secara etika, itu sama sekali tidak diperkenankan. Kejadian tersebut membuat saya kembali berpikir, menarik hipotesis dalam diri; bahwa tingkat pendidikan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan cara beretika. Padahal idealnya, seseorang yang berpendidikan diibaratkan serupa memiliki ilmu padi; makin berisi makin merunduk. Sekali lagi, idealnya. Namun …, hei, apa yang tidak mungkin terjadi di muka bumi ini?

Ah, lagi-lagi batin saya berlompatan. Bersyukur bahwa saya diberikan hati lengkap dengan segenggam iman di dalamnya. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa tiap hal memiliki risikonya sendiri, tak terkecuali bekerja sebagai redaktur pelaksana di redaksi jurnal ilmiah. Selalu berharap, Gusti Allah memberi saya cukup waktu dan kekuatan untuk makin cepat berlari mengejar ketertinggalan ini. I do hope so … :)


TAGS #CurhatRedaksi


-

Author

perempuan angin | redaktur jurnal | march equinox | freelance tutoress | Ezy's riding mate

Follow Me