Celoteh Perempuan Angin

20 Oct 2013

kanopi

Aku selalu berharap Tuhan mengizinkan aku tetap melakukan hal ini. Sesuatu–yang mungkin menurut banyak orang di luar sana–terlihat bodoh, tetapi bagiku sangat berarti. Aku suka memeluk pohon dan menikmati teduhnya kanopi. Ya, dua hal sederhana itu selalu membuatku kerasan menjadi perempuan angin.

Aku mengagumi pepohonan yang memberi tanpa mengerti hendak diberi imbalan apa oleh manusia dan makhluk di sekitarnya. Jika terngiang aku pada pelajaran ilmu faal tumbuhan, pada reaksi gelap-terang, fotosintesis, asimilasi, dan lain hal; maka semakin kagumlah aku pada ciptaan Tuhan yang satu itu. Lalu, syukurku pun unjuk kepada-Nya. Betapa Ia Sang Maha Daya; telah mengatur segala rupa hal di dunia ini tanpa cela. Tak terhitung sebanyak apa, tetapi sungguh kehadiran pepohonan dan tumbuhan adalah pelengkap terbaik bumi ini.

Kembali lagi pada pelajaran tentang ilmu faal tumbuhan, aku ingat benar bagaimana Tuhan menitahkan pepohonan dan tumbuhan menjadi makhluk autotrof. Makhluk yang atas izin-Nya diberi kemampuan mengubah energi sinar matahari menjadi sumber karbon dan oksigen. Ah, betapa hebatnya mereka.

Pikiranku lalu melayang. Kedua bola mataku mengerling ke arah teduhnya kanopi pepohonan. Aku berusaha menghitung berapa banyak dedaunan yang bekerja suka rela mengolah karbondioksida kembali menjadi oksigen. Menghitung berapa banyak kepingan klorofil dalam tiap helai daun. Membayangkan betapa sibuknya pembuluh kayu dan tapis bekerja hilir mudik setiap hari. Menghitung berapa banyak pundi oksigen yang mereka hasilkan untuk digunakan juga dibagikan kepada makhluk di sekitarnya. Membayangkan berapa galon air yang sanggup dijaga oleh akar-akar mereka. Ah, ya … itu banyak, banyak sekali!

Cuma ….

Sesekali juga aku bertanya pada diri sendiri. Sudahkah aku ikhlas seperti pepohonan? Yang memberi tanpa pamrih dan mencintai tanpa tendensi. Yang tak pernah mengeluh tak dianggap, bahkan takkan membalas apa-apa jika manusia lebih suka menebang dan menggantikan mereka dengan bangunan serta hutan beton. Aku sering membayangkan jika suatu hari nanti bumi benar-benar kehilangan pepohonan. Akan ada banyak hal yang timpang, rusak, dan akhirnya punah tak bersisa. Ah, betapa itu mengerikan. Namun, kengerian itu takkan berarti apa-apa jika tidak diikuti dengan hal-hal berguna.

Lalu, pertanyaanku pun berlanjut …. Bagaimana rasanya masa depan tanpa pepohonan? Bagaimana anak turunku hendak hidup damai jika aku tak sedari sekarang mau urun dalam upaya konservasi alam? Bagaimana hendak kuwariskan kebiasaanku memeluk dan menembang untuk pepohonan pada generasi penerusku kelak? Haruskah pepohonan berakhir seperti kisah dongeng? Cukupkah mereka ditunjukkan secara dua dimensi atau berupa maket belaka kepada anak-anak bangsaku nantinya?

Ah, Tuhan … beri aku izin-Mu untuk tetap memeluk pepohonan sesukaku. Beri aku izin untuk terus menyemaikan semangat ini kepada mereka yang lebih muda. Beri aku kekuatan untuk mewujudkan segala hal yang indah dan damai untuk lingkungan di sekitarku; untuk masa depan. Beri aku sempat lebih lama lagi menjadi perempuan angin … aku ingin memberi yang terbaik, selalu. Semoga Engkau mengijabah permohonan sederhana ini. Aamiin.


TAGS perempuan angin memeluk pohon


-

Author

perempuan angin | redaktur jurnal | march equinox | freelance tutoress | Ezy's riding mate

Follow Me