#CeritaDariKamar #30 Sekotak Impian

30 Aug 2013

Sekotak impian. Biar saya namakan kotak hijau ini demikian. Sebenarnya sederhana saja bentuknya, seperti kotak plastik biasa. Yang istimewa, karena kotak ini menyimpan kisah dan segala impian saya sejak memiliki buku catatan harian pertama hingga ketujuh. Jadi kalau di hitung-hitung sejak tahun 1996 pertengahan hingga pertengahan tahun 2002, ya sekitar 6 tahun.

enam buku harian lux yang saya simpan di kotak impian

enam buku harian lux yang saya simpan di kotak impian

Impian pertama yang saya tulis di buku pertama, kedua, dan ketiga ada kemiripan. Tidak lain yaitu bisa lolos ujian nasional (kala itu masih bernama EBTANAS) dengan NEM memuaskan dan diterima bersekolah di sekolah menengah umum negeri favorit di kota Jogja. Saya merasa bersekolah di desa kurang saingan. Ya, kala itu saya diterima di SLTPN 3 Ngaglik (sekarang SMPN 3 Ngaglik) yang berjarak lebih kurang 2 km dari rumah. Bagi saya tidak apa-apa bersekolah di dekat rumah, asalkan sekolah negeri. Yang saya kejar justru tingkat setelah sekolah menengah pertama dan Bapak juga menyetujuinya. Jadi tunggu apa lagi? Belajar terus! :D

Ada juga impian (entah ini termasuk konyol atau tidak) memiliki pacar yang bisa diajak saingan dan belajar bersama. #tsaaah :lol: Gara-garanya saya memang naksir seseorang sih waktu itu. Orangnya pintar dan baik. Bahkan kami terpilih sebagai wakil sekolah dalam rangka pemilihan siswa teladan se-kabupaten Sleman tahun 1998. Untold love, sampai akhirnya saya mengaku dan eng-ing-eng kami menjauh satu sama lain. #lalungakak

Keceriaan saya yang seperti itu tiba-tiba berubah saat saya harus ditakdirkan kehilangan motivator terbesar, Bapak. Setelah sebelumnya saya bahagia bisa menunjukkan kepada beliau bahwa saya bisa diterima di sekolah favorit di kota Jogja tahun 1999; setahun kemudian saya pun dihadapkan pada liku hidup lain. Kisah yang saya tulis di buku harian keempat sangat berbeda. Ada kesedihan, ada rasa marah mengapa Tuhan mengambil beliu dari sisi, ada rasa khawatir yang terus menerus karena masih ada sebuah impian lagi yang ingin saya persembahkan untuk Bapak. Impian yang beliau sampaikan pada saya ketika saya masih duduk di bangku kelas 5 SD: berkuliah di UGM. Wah! Apa seorang murid SD inpres bisa?

Impian itu beradu dengan kesedihan, dengan biaya dan pengorbanan yang tidak sedikit. Antara bayangan prestasi yang anjlok sejak di kelas 2, juga bermimpi bisa melakukan sebuah hal untuk meringankan beban ibu. Tapi apa? Saya malah mendadak minder karena saya berbeda dengan teman-teman saya. Namun, syukur alhamdulillah, saya bisa meluluskan permintaan Bapak sekalipun hanya diterima di pilihan kedua, pilihan terakhir karena kala itu hanya ada dua pilihan jurusan di SPMB jalur IPA. Semua impian berikut kisah sedih-senang itu saya abadikan di buku keempat hingga ketujuh. Waktu yang menyembuhkan saya, cuma itu. Kesibukan yang saya jumpai di awal menjadi mahasiswa baru pun akhirnya membentuk saya menjadi pribadi yang cuek, but fragile inside. Berusaha bahagia dan mencari kesenangan dengan cara saya sendiri.

Mungkin itu seperti kisah terakhir yang yang tulis di buku ketujuh adalah soal pengalaman malam inaugurasi ospek (Bajak Tani-Bahana Jajaki Fakultas Pertanian) bersama kelompok 20. Ada hal gila (menurut teman-teman) yang kala itu saya lakukan. Apa? Saya menari ala street dance di depan teman seangkatan, yang terdiri dari 5 jurusan! Wow!! Rasanya pingin ngakak kalau ingat malam itu. Waktu kami sekelompok turun ‘panggung’, beberapa orang terheran-heran bertanya dari mana saya bisa menari. Saya hanya bisa nyengir lalu membagi cerita kalau saya ingin bisa menari dengan Vanness Wu suatu ketika nanti. Hahaha, ya itu karena saya mulai nge-fans dengan F4 waktu itu. Jadi hendak memiliki impian paling absurd pun, saya pikir tak apa. Bebas! Tiap orang bisa bermimpi apapun dan mengabadikannya lalu menyimpannya di sebuah kotak impian untuk diwujudkan nanti, meski itu hanya dalam mimpi. #eh :D Baiklah, sekian kisah di hari ke-30 #CeritaDariKamar, sampai jumpa esok di hari terakhir ya! :)


TAGS #CeritaDariKamar kotak impian


-

Author

perempuan angin | redaktur jurnal | march equinox | freelance tutoress | Ezy's riding mate

Follow Me