Terlambat

1 Jul 2013

Wis, Pakne sembuh dulu. Soal tegalan biar diurus Kamto.”

Ah, Pakne…. Bahkan di usia sepuhnya, ia masih memikirkan tegalan, satu-satunya sumber nafkah kami. Pagi tadi ia bilang sudah bregas, siap macul lagi. Aku hanya menggeleng kalau keras kepalanya kambuh.

“Minum, Bune…”

Kalimat lirihnya menuntunku ke dapur. Segelas air hangat kutuang dari termos. Bersegera langkahku menuju senthong. Kupanggil, diam. Badannya dingin. Terlambat sudah…

“Pakne…!!”

banner-kontes-unggulan-63-300x214


TAGS giveaway flash fiction Pakdhe Cholik terlambat manula


-

Author

perempuan angin | redaktur jurnal | march equinox | freelance tutoress | Ezy's riding mate

Follow Me